Harga Tempe di Depok Naik Jadi Rp 9.000 per Papan

Harga kedelai impor di tingkat pengrajin mengalami penyesuaian

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Depok di sejumlah pasar tradisional, saat ini pedagang tempe dan tahu mulai kembali berjualan. Namun harga tempe mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai Rp 9.000 per papan.

Kepala Bidang Perdagangan Disperdagin Kota Depok, Anim Mulyana mengatakan, harga tempe di Pasar Cisalak mengalami kenaikan dari Rp 7 ribu per papan menjadi Rp 9 ribu per papan atau naik Rp 2 ribu per papan. Sedangkan di Pasar Agung harga tahu semula Rp 3.500 per papan menjadi Rp5 ribu per papan.

“Terdapat beberapa pasar juga yang menjual tempe dan tahu dengan harga normal. Namun, untuk mensiasatinya, para pedagang mengurangi ukurannya,” ujar Anim di Balai Kota Depok, Senin (1/4).

Kepala Disperdagin Kota Depok, Zamrowi Hasan mengatakan, sesuai informasi dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), kenaikan harga kedelai disebabkan lonjakan permintaan kedelai dari China ke Amerika Serikat (AS) selaku eksportir. “Kalau harga kedelai naik beimbas pada biaya produksi juga naik,” terangnya.

Menurut Zamrowi, harga kedelai impor di tingkat pengrajin mengalami penyesuaian dari Rp 9 ribu per kilogram (kg) pada November 2020. Kini menjadi Rp 9.300 per kg hingga Rp 9.500 per kg pada Desember 2020, atau naik sekitar 3,33-5,56 persen.

“Dari rilis Kemendag RI juga disebutkan stok kedelai di gudang importir sekitar 450 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan 2-3 bulan mendatang,” jelasnya.

__Posted on
__Categories
Republika, Umum