Kekebalan Tubuh Usai Vaksinasi Covid-19 Masih Dipertanyakan

Ada ketidakpastian berapa lama kekebalan terhadap virus corona akan bertahan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para peneliti saat ini masih terus mengembangkan vaksin Covid-19. Salah satu yang memiliki respons baik adalah vaksin yang dikembangkan oleh Moderna dan Pfizer/BioNTech.

Menurut data awal, vaksin tersebut telah berhasil memicu respons imun. Namun dilansir laman Trt World pada Kamis (19/11), ada ketidakpastian berapa lama kekebalan terhadap virus corona akan bertahan.

Meskipun terbilang langka dan jarang, infeksi ulang virus corona pada segelintir pasien juga dilaporkan ada di beberapa negara. Contoh-contoh seperti itu memicu kekhawatiran mengenai kekebalan melalui infeksi atau imunisasi di masa lalu mungkin hanya bertahan beberapa bulan.

Ilmuwan masih memperdebatkan masalah ini. Akan tetapi data yang mereka miliki saat ini memberikan gambaran yang tidak pasti.

Sebuah studi baru-baru ini memberikan beberapa alasan untuk tetap optimistis. Para peneliti yang mengerjakannya menemukan, sampel darah dari pasien yang telah terinfeksi virus delapan bulan lalu menunjukkan tingkat antibodi yang relatif tinggi dan sel-T yang melawan infeksi di dalam tubuh.

Sementara studi ini tunduk pada tinjauan sejawat. Menurut para peneliti, jumlah agen penangkal infeksi, seperti antibodi dan sel-T, cukup untuk mencegah infeksi virus corona baru.

Tanggapan kekebalan yang diamati meningkatkan harapan itu akan serupa dengan yang terlihat pada mereka yang terinfeksi virus penyebab SARS yang juga merupakan virus corona. Dalam kasus itu, menurut laporan New York Times, tanggapan kekebalan tetap ada dalam tubuh orang yang terinfeksi setidaknya selama 17 tahun setelah paparan awal virus.

Vaksin bekerja dengan mencoba meniru respons tubuh terhadap infeksi yang sebenarnya dan memicu respons imun. Ini biasanya dilakukan dengan menggunakan partikel virus yang mati atau lemah yang dikenali oleh tubuh sebagai patogen asing.

Vaksin Moderna dan Pfizer/BioNTech bekerja menggunakan teknologi perintis messenger RNA. Begitu berada di dalam tubuh, RNA menginstruksikan sel untuk membangun protein lonjakan yang terkait dengan virus corona baru.

Hal ini memicu respons kekebalan tubuh dan pada gilirannya mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk menangkis virus yang sebenarnya. Data yang dirilis sejauh ini menunjukkan kemanjuran 95 persen untuk vaksin Moderna dan 90 persen untuk versi Pfizer dan BioNtech. Namun yang masih belum diketahui adalah berapa lama kekebalan akan bertahan.

Ugur Sahin dari BioNTech telah memberikan perkiraan yang cermat mengenai berapa lama kekebalan tubuh akan bertahan. “Setidaknya satu tahun,” tutur dia. Akan tetapi alasan ketidakjelasan itu sangat sederhana sehingga terlalu dini untuk mengatakannya.

Kesimpulan tentang berapa lama respons imun bertahan juga dapat ditentukan setelah vaksin diberikan pertama kali. Sederhananya, mereka yang sudah mendapat vaksin harus diawasi lebih lama.

Namun meskipun kekebalan tidak dalam jangka panjang, jika vaksin juga dapat mengurangi penyebaran virus maka vaksin akan membantu mengurangi penyebaran penyakit ke tingkat yang dapat dikendalikan. Sederhananya, semakin sedikit orang yang terinfeksi penyakit ini, semakin sedikit pembawa penyakit yang akan ditularkan kepada orang lain.

Dikombinasikan dengan metode manajemen penyakit lain, seperti jarak sosial dan karantina mandiri, vaksin pada akhirnya akan membantu mengakhiri pandemi. Bahkan jika virus tidak sepenuhnya dimusnahkan.

Jadi sementara pemerintah berbagai negara di dunia berharap vaksin dapat menangkal ancaman langsung dari virus, mereka juga berharap kampanye imunisasi akan membuat warganya terlindungi dalam jangka panjang.

__Posted on
__Categories
Republika, Umum