Mengenal Alam Liar Pulau Komodo

PULAU Komodo adalah pulau terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo. Dalam bahasa lokal, pulau ini disebut Loh Liang. Pulau Komodo juga dikenal sebagi habitat bagi satwa langka yang masuk dalam kategori rentan kepunahan, yakni komodo.

Bersama Pulau Padar, Pulau Rinca, dan pulau-pulau sekitar lainnya, pulau ini menjadi bagian dari Taman Nasional Komodo yang memang dibentuk untuk melindungi satwa komodo dan habitat aslinya.

Jika ingin memasuki area TN Komodo, wisatawan tidak boleh berjalan sendiri. Setiap perjalanan memasuki alam liar ini harus ditemani oleh ranger atau pemandu.

Pasalnya, walaupun jarang terlihat, komodo termasuk hewan berbahaya yang jika diganggu dapat menggigit manusia.

Ada beberapa pilihan jalur tracking di pulau ini jika traveler ingin melihat langsung komodo di dalam hutan. Antara lain jalur pendek, menengah, dan jalur panjang.

Dalam penelusuran untuk melihat komodo, sepanjang perjalanan wisatawan akan disuguhi pemandangan alam liar yang jarang ditemui di tempat lain.

Tak hanya komodo, taman nasional ini juga menjadi habitat bagi satwa lain. Di antaranya rusa, beragam jenis burung, dan juga babi hutan. Semuanya membentuk sebuah rantai makanan yang menunjang keseimbangan ekosistem di sini.

Yang harus diingat, taman nasional berbeda dengan kebun binatang. Keaslian dan sifat alami satwa di sini harus dijaga. Karena itu, wisatawan dilarang keras untuk memberi makan komodo atau satwa lainnya, apalagi memburunya.

Menurut Kepala Resor Taman Nasional Komodo, David, di alam liar seperti ini wisatawan tidak selalu akan mendapati komodo. “Kalau kita beruntung, bisa lihat, karena kan ini alam liar,” katanya dalam program Journey Metro TV.

Namun, ada juga kelompok masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa ini, yakni di Desa Komodo. Di sekitar lokasi Pulau Komodo banyak ditemui penjual souvenir. Salah satunya adalah miniatur komodo kayu berbagai ukuran.

Di desa inilah suvenir miniatur komodo kayu berasal. Miniatur ini dijual dengan harga mulau dari Rp150 ribu untuk ukuran kecil, hingga Rp3 juta untuk ukuran besar.

Menurut pengrajin di sana, terdapat beberapa kelompok masyarakat yang menggeluti pekerjaan membuat miniatur komodo. Saat ini anggotanya mencapai 60 orang.

“Pertama dijualnya untuk di (kawasan) Loh Liang. Kalau ada pesanan dari Labuan Bajo atau dari luar, baru barangnya dibawa keluar,” kata salah seorang pengrajin.

Dengan teknologi internet yang tersedia saat ini, salah satu keinginan para pengrajin miniatur komodo ini adalah dapat memasarkan produknya secara online. Dengan begitu, penjualan mereka dapat berkembang. (Ifa/S2-25)

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum