Menjemput untung dari usaha fesyen motif tye dye yang lagi ngehits

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Pandemi virus korona baru bisa menumbuhkan banyak kreativitas usaha. Selain budidaya tanaman hingga ikan cupang hias, pandemi membuat produk fesyen  dengan corak bercak-bercak, yang ngehits dengan sebutan tie dye, juga populer. 

Motif tie dye yang juga kerap disebut seni ikat celup atau jumputan ini sejatinya sudah ada sejak 1960-an. Dan, selama pandemi virus korona melanda, corak jumputan ini kembali menarik perhatian pecinta fesyen di tanah air. 

Beberapa produk fesyen seperti kaos kini banyak yang menampilkan motif jumputan. Sehingga, menarik perhatian banyak orang. Kondisi inipun tidak disia-siakan oleh Anggi Denita, pemilik Tie Dye Handmade asal Bandung. Pertengahan tahun ini, ia menekuni usaha kaos motif jumputan.

Awal menekuni usaha tersebut, ternyata amat sederhana. Efek pandemi virus korona membuat uang jajannya berkurang. Tak ingin uang jajannya terpangkas, Anggi yang berstatus mahasiswi pun memutar otak untuk memulai usaha. Dan, pilihannya jatuh ke usaha kaos motif tie dye yang tengah laris saat ini.

Baca Juga: Asah digital marketing bersama Pertamina, Batiq Colet raup omzet Rp 60 juta sebulan

Dengan modal Rp 300.000, ia memulai usaha tersebut. Modal itu dia belikan pewarna sebagai bahan untuk membuat motif jumputan. Selain kaos, ia juga menggunakan corak tie dye untuk produk fesyen lainnya. Mulai kaos kaki, masker, jaket bahan jins, hoodie, hingga sweater.

Cara pemasarannya pun Anggie lakoni laiknya kebanyakan pebisnis lainnya, yakni lewat kanal online, khususnya marketplace. Hasilnya manjur. Ia bisa meraup omzet hingga Rp 21 juta per bulan yang berasal  order hingga 1.000 potong produk fesyen yang mengusung motif jumputan

Biar usahanya terus berkembang, Anggi sudah menyiapkan motif-motif jumputan lainnya untuk tahun depan. Harapannya, omzetnya bisa tumbuh hingga 80% di 2021. “Saya sudah dapat ide bisnis apa yang akan dikembangkan. Tinggal jalankan saja,” katanya ke KONTAN tanpa memerinci lebih lanjut.

Pemain lainnya yang juga tidak ingin melewatkan fenomena corak jumputan adalah Angela Cecilia, pemilik The Cecils.id asal Jakarta. Sama seperti Anggi, dia juga baru memulai usaha fesyen motif tie dye pada pertengahan tahun ini. 

Apalagi, Angela kerap berada di rumah dan ingin memacu kreativitas lewat membuat produk fesyen bermotif tie dye. “Karena tie dye tengah viral, akhirnya saya memutuskan untuk memproduksi tie dye set,” ujarnya ke KONTAN. 

Jadi, Angela lebih memilih untuk membuat corak tie dye untuk satu set baju yakni atasan dan bawahan. Ia menjual produknya dengan harga mulai Rp 35.000 sampai Rp 180.000 per set. Lewat penjualan online, dia bisa meraup pendapatan hingga jutaan rupiah sebulan. 

Supaya usahanya bisa  terus tumbuh, Angela bakal melakukan inovasi tiada henti, baik motif maupun produk corak tie dye.

 

 



__Posted on
__Categories
Kontan, Peluang