Merawat cuan besar dari bisnis masker perawatan wajah

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beragam peluang usaha bermunculan saat pandemi virus korona baru. Tak cuma sekadar yang berhubungan dengan bisnis makanan dan minuman atau tanaman, tapi juga merambah ke produk kecantikan. Salah satunya adalah masker wajah,

Permintaan produk kecantikan ternyata cukup menjanjikan selama pandemi. Lantaran, sebagian besar orang kini lebih banyak berada di rumah dan punya waktu luang luas untuk mengerjakan sesuatu, termasuk merawat diri. Misalnya, perawatan wajah dengan memakai masker berbahan alami.

Kondisi inilah yang Dinda Fatika Putri manfaatkan, dengan membangun bisnis masker wajah bernama Shemmy Beauty yang berbasis di Karawang sejak  Maret 2020. “Banyak orang memanfaatkan waktu di rumah, seperti mempercantik diri dengan perawatan wajah memakai masker organik untuk menunjang perawatannya,” katanya kepada KONTAN, Jumat (13/11).

Dengan bermodalkan Rp 1,5 juta, ia memulai usaha tersebut, setelah melihat cara pembuatan masker organik di media digital dan sumber lainnya. Untuk menarik minat konsumen, dia memperbanyak varian masker wajah dengan bahan-bahan utama, seperti yoghurt, stroberi, madu, alpukat, kopi, serta bunga safron.

Baca Juga: Menjemput untung dari usaha fesyen motif tye dye yang lagi ngehits

Hasilnya, ada beberapa varian masker wajah yang Dinda produksi. Contoh, yoghurt teh hijau, yoghurt stroberi, dan yoghurt madu. Lantas, varian alpukat, kopi, sulfur, rosela dan safron. Masker tersebut ia lego  dengan harga Rp 5.000- Rp 20.000 per produk.

Hanya, Dinda mengakui, masker wajah buatannya belum mempunyai izin dari BPOM karena terbentur biaya dan persyaratan. Namun, ia mengklaim, semua bahan baku untuk memproduksi masker wajah terbuat dari bahan alami, sehingga aman untuk wajah.

Rata-rata, Dinda sanggup memproduksi 500 sampai 1.000 produk masker wajah per bulan. Kemudian, masker wajah dengan merek Shemmy Beauty dia pasarkan dengan memanfaatkan jaringan penjual. 

Saat ini, ia memiliki 20 reseller dan 30 dropshipper yang tersebar di sejumlah daerah, seperti Bandung, Jakarta Barat, Bekasi, Cikarang Timur, Bogor, Cirebon, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

Hasilnya, Dinda sanggup menjual sebanyak 300 masker hingga 1.000 masker per bulan, dengan omzet rata-rata sekitar Rp 8 juta. Sayang, ia tidak memerinci target bisnis selanjutnya termasuk pendapatannya.

Pengamat usaha Djoko Kurniawan menilai, bisnis masker wajah memang menjanjikan di saat pandemi. Tapi, biar usaha ini tetap eksis dan berkembang, maka perlu ada edukasi ke pengguna soal pemakaian bahan baku yang alami dan aman. Yang tidak kalah penting, pelaku usaha masker wajah kudu mengantongi izin produksi dan edar dari lembaga terkait, supaya konsumen lebih percaya.

 



__Posted on
__Categories
Kontan, Peluang