Pandemi Jadi Momentum Kebangkitan Buku Digital Generasi Keempat

PEMBELAJARAN tatap muka atau pembelajaran langsung bagi siswa sekolah selama masa pandemi covid-19 masih belum dapat dilakukan. Endah Setyarini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan pihaknya belum merekomendakasikan pembelajaran tatap muka.

“Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu daerah belum menjadi zona hijau atau setidaknya zona kuning,” kata Endah dari IDAI Jawa Timur, Rabu (18/11/2020).

Baca juga: Buku Digital Disukai Anak-Anak

Selain zona risiko, ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum memutuskan akan membuka sekolah. Menurutnya, bisa saja sekolahnya zona hijau tapi muridnya berasal dari zona merah dan terjadi penularan sesama siswa, lalu ke orang dewasa di sekitar mereka.

Menanggapi hal tersebut, Co-Founder PesonaEdu Hary Candra mengatakan pandemi covid-19 menjadi momentum bagi sekolah di Indonesia untuk memaksimalkan pernah buku digital. Ia bahkan sudah memprediksi sejak 15 tahun silam tentang pentingnya buku digital di dunia pendidikan.

“Saya pernah diundang diskusi baik sebagai peserta maupun pembicara di luar negeri. Sejak 15 tahun silam, saya dalam sesi sharing mengatakan pentingnya peran media digital bagi dunia pendidikan,” ujar Hary kepada Media Indonesia, Kamis (19/11/2020).

Ucapannya belasan tahun silam mulai terbukti tentang pentingnya buku pembelajaran digital. Namun, ia menggarisbawahi media pembelajaran digital bersifat komplemen bukan untuk menggantikan peran buku ajar cetak.

Baca juga: Buku Digital Sepi Pembaca

“Buku digital bukan untuk mengganti peran buku ajar cetak melainkan untuk melengkapi. Jadi ketika sekarang pandemi melanda dan siswa tidak bisa bertatap muka dengan guru, di sinilah mulai terlihat pentingnya buku pendidikan berformat digital,” imbuhnya.

Buku digital yang dimaksud bukan semata-mata berbentuk e-book yang berbentuk PDF atau portable document format. Menurut dia, buku digital terbaik untuk situasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) ialah buku digital generasi ke-4.

“Buku jenis ini memberikan nuansa baru dalam belajar dengan menghadirkan konten interaktif kelas dunia yang menyatu dalam buku digital,” terang dia.

Buku digital generasi keempat disajikan dengan tampilan mirip buku. Berbeda dengan e-book biasa, buku digital jenis ini diperkaya dengan animasi dan simulasi interaktif berkualitas tinggi, audio narasi, dan berbagai fitur interaktif lain yang tertanam dalam aplikasi tunggal.

Baca juga: Berbenah Layanan di Era Digital

PesonaEdu, selaku perintis pengembang software pendidikan di Indonesia, mengatakan pihaknya sudah bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Singapura terkait penggunaan buku ajar digital ini.

Data Tahun 2016 menyebutkan Singapura menempati urutan teratas dalam survei pendidikan di 72 negara yang dilakukan Program Penilaian Siswa Internasional (PISA). Indonesia masih tertinggal, namun ada di atas Brasil, Peru, Lebanon, Tunisia, Kosovo, dan Aljazair.

“Semoga saja penggunaan buku digital generasi keempat ini tidak hanya dimanfaatkan secara luas di Singapura, tetapi juga oleh negara kita Indonesia,” tandasnya. (Ant/A-3)

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum