Angkatan Laut AS Ingin Bentuk Armada Baru di Dekat Singapura

WASHINGTON – Sekretaris Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS), Kenneth Braithwaite, menyerukan kepada Angkatan Laut untuk membentuk armada baru di dekat Singapura di perbatasan Samudra Hindia dan Pasifik. Tujuannya, untuk mengatasi tantangan Angkatan Laut di wilayah Komando Indo-Pasifik AS termasuk tantangan dari China.

Braithwaite mengatakan bahwa dia belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan Christopher Miller tentang rencana tersebut.

“Kami ingin berdiri armada bernomor baru. Dan kami ingin menempatkan armada bernomor itu di persimpangan antara Samudra Hindia dan Pasifik, dan kami benar-benar akan memiliki jejak Indo-PACOM (Komando Indo-Pasifik),” katanya. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan)

“Kami tidak bisa hanya mengandalkan Armada ke-7 di Jepang. Kami harus mencari sekutu dan mitra kami yang lain seperti Singapura, seperti India, dan benar-benar menempatkan armada bernomor di tempat yang akan sangat relevan,” ujar Braithwaite.

Baca Juga:

“Lebih penting lagi, ini bisa memberikan pencegahan yang jauh lebih tangguh. Jadi kami akan membuat Armada ke-1, dan kami akan menjelaskannya, jika bukan Singapura, kami akan membuatnya lebih berorientasi ekspedisi dan memindahkannya melintasi Pasifik sampai itu adalah tempat sekutu dan mitra kami melihat bahwa hal itu dapat membantu mereka sebaik mungkin (juga) untuk membantu kami,” paparnya.

Seorang pejabat pertahanan mengatakan kepada USNI News, Jumat (20/11/2020) bahwa Braithwaite telah mendapatkan ide untuk mendirikan Armada Pertama beberapa bulan yang lalu dan telah melakukan pembicaraan dengan mantan Menteri Pertahanan Mark Esper, yang setuju dengan proposal tersebut. (Baca juga: Jet Tempur Siluman J-20 China vs F-22 Raptor AS, Hebat Mana?)

Braithwaite mengumumkan niatnya tersebut saat berbicara di simposium tahunan Naval Submarine League.

Dia mengatakan di awal pidatonya bahwa “orang China telah menunjukkan agresivitas mereka di seluruh dunia. Baru saja datang dari High North (di mana dia sebelumnya menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Norwegia), kehadiran China di Kutub Utara belum pernah terjadi sebelumnya. Baru-baru ini saya melakukan perjalanan ke Timur Jauh; setiap sekutu dan mitra kami prihatin tentang betapa agresifnya orang China. Saya akan berdebat dengan siapa pun bahwa sejak Perang 1812 Amerika Serikat dan kedaulatan kita tidak berada di bawah tekanan yang kita lihat sekarang.”

__Posted on
__Categories
SindoNews, Umum