Banjir Lumpuhkan Pemerintahan Desa di Lamongan

LAMONGAN Banjir di Kabupaten Lamongan sudah berlangsung selama seminggu, namun hingga kini belum ada tanda -tanda surut bahkan air semakin naik. Akibatnya, pemerintahan desa lumpuh karena sejumlah kantor desa terendam banjir.

Banjir akibat luapan anak Sungai Bengawan Solo di Lamongan sedikitnya sudah merendam 38 desa di 6 kecamatan. Banjir menyebabkan aktivitas warga terganggu. Bahkan di Desa Tiwet, Kecamatan Turi, aktivitas pemerintahan tidak dapat dijalankan lantaran kantor desa terendam banjir. (Baca Juga: Banjir Kian Meluas, 19 Desa di 5 Kecamatan Terdampak Luapan Anak Sungai Bengawan Solo)

Menurut Kepala Desa Tiwet, Ahmad Syaifudin Yuhri, aktivitas warga terganggu karena rumah warga, sawah tambak serta fasilitas umum seperti jalan desa juga terendam banjir. “Sementara ini aktivitas pemerintahan desa lumpuh. Tidak ada kegiatan sama sekali”, kata Syaifudin yang rumahnya juga kebanjiran.

Jalan poros desa terendam banjir, untuk melintasi banjir, warga kini menggunakan perahu. “Kalau menggunakan motor tidak bisa karena motor akan mogok. Jadi ya warga pakai perahu,” tuturnya. (Baca Juga: Banjir Bandang Hantam Simalungun, Jembatan Penghubung Antar Desa Ambruk)

Baca Juga:

Kini perahu warga terlihat lalu-lalang di jalan-jalan desa yang tergenang banjir setinggi lutut orang dewasa. Desa Tiwet menjadi salah satu desa di Kecamatan Turi yang terdampak banjir akibat luapan anak Sungai Bengawan Solo. (Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang Solok, Ribuan Rumah Warga Terendam)

Banjir kali ini merupakan banjir terparah dalam 20 tahun terakhir, tingginya curah hujan dan pendangkalan sungai disinyalir sebagai penyebab banjir yang tak kunjung surut ini. Warga berharap pemerintah segera melakukan tindakan untuk mengatasi banjir tahunan ini.

__Posted on
__Categories
SindoNews, Umum