BKSDA Agam Tangani 3 Konflik Satwa dengan Manusia Sepekan

Penanganan tersebut, yakni konflik dengan buaya, beruang madu, dan macan dahan.

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) Resort Agam melakukan penanganan konflik satwa liar dengan manusia di tiga lokasi berbeda dalam sepekan terakhir. Penanganan tersebut, yakni konflik dengan buaya, beruang madu, dan macan dahan. 

Saat ini, penanganan yang masih berlangsung adalah pelacakan terhadap konflik manusia dengan beruang madu di Jalan Raya Kelok 44, tepatnya di Kubuak Jorong Kuok Tigo Koto, Nagari Matur Mudiak, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. “Perangkap sudah di pasang, dan sampai saat ini belum ada masuk perangkap, ada muncul, tapi lokasinya jauh di Jorong Sidang Tangah. Kita tidak tahu apakah beruang yang sama atau tidak,” kata Ade, Sabtu (21/11). 

Beruang madu tersebut muncul pekan lalu, Ahad (16/11). Macan ini terlihat melintas dan ketika memanjat pohon durian. 

Selanjutnya aktivitas BKSDA Agam ialah pemasangan perangkap besi di Jorong Paraman, Nagari Sipinang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam sejak Rabu (18/11). Lokasi tersebut merupakan tempat munculnya macan dahan.

Pemasangan perangkap tersebut untuk menindaklanjuti laporan warga adanya satwa liar yang menyerang ternak warga pada Ahad,(16/11). Di mana da 3 ekor ternak kambing warga yang dilukai satwa liar yang diduga macan dahan. 

Semula, saat survei lokasi pertama kali, BKSDA tidak dapat mendeteksi satwa liar yang melukai ternak warga lantaran jejaknya terhapus hujan deras. Pada Jumat (20/11), BKSDA sudah mengindentifikasi jejak macan dahan atau Neofelis Diardi tersebut.  Petugas juga menemukan jejak macan dahan tidak jauh dari lokasi perangkap.

Satu lagi penanganan yang dilakukan BKSDA di Agam adalah konflik buaya. BKSDA melakukan survei lokasi pasca diserangnya seorang warga bernama Muhammad Taher (37) yang merupakan warga Padang Koto Marapak, Nagari Silareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Taher diserang buaya muara saat menangkap ikan di Sungai Batang Nanggang, Kamis (19/11).

BKSDA kata Ade belum bisa sepenuhnya penanganan di lokasi kemunculan buaya, sebab di lokasi masih hujan. Hujan akan memperbesar debit air dan memperluas ruang gerak buaya.

“Karena masih hujan kami belum bisa ke TKP,” ucap Ade. 

Dalam penanganan di tiga lokasi ini, BKSDA menurunkan 5 orang personel yang juga dibantu babinkhantibmas dan warga sekitar. Selain itu juga dipasang 2 perangkap di dua lokasi. Kemudian juga dipasang 5 kamera trap. 

__Posted on
__Categories
Republika, Umum