Cekcok di Jalan, Pemuda di Karangasem Sekarat Ditusuk Pemabuk

Merdeka.com – Seorang pemuda di Karangasem, Bali, I Gede Artana alias Arta (26), luka berat setelah ditusuk I Ketut Mustika (29) alias Doyok. Peristiwa itu dipicu cekcok di jalan.

Penusukan terjadi di pinggir Jalan Amlapura, Singaraja, tepatnya di depan Pasar Tukadeling, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (5/4) sekitar pukul 22.00 Wita.

“Untuk barang buktinya sebilah pisau lipat warna silver,” kata Kapolsek Kubu AKP I Nengah Sona, Rabu (7/4).

Dia memaparkan kejadian itu berawal korban bersama temannya mengendarai mobil dari mengarah ke timur lalu berhenti di pinggir jalan. Artana kemudian turun dan akan menyeberang untuk membeli lalapan.

Tiba-tiba sepeda motor yang dikemudikan I Gede Rama dan membonceng Mustika melintas dari arah timur tanpa menyalakan lampu. Kendaraan itu hampir menabrak Artana.

Rama menghentikan dan memarkirkan sepeda motornya di kiri jalan. Mustika turun sepeda motor, sedangkan Artana bersama temannya mendatangi mereka.

Artana dan temannya meminta maaf karena menyeberang kurang hati-hati sehingga hampir ditabrak. Namun cekcok sempat terjadi antara Artana dan Rama. Keduanya bisa didamaikan. Belakangan, Mustika cekcok dengan Artana.

Di tengah cekcok itu, Mustika mendorong Artana lalu menusuk bagian dada kirinya degan pisau lipat. Korban langsung terduduk, sedangkan pelaku dan temannya langsung pergi menggunakan sepeda motor.

“Akibat kejadian itu, korban dalam keadaan sadarkan diri mengalami luka tusuk di bagian dada kiri dan mengeluarkan darah, sehingga harus dirawat di rumah sakit,” imbuh Sona.

Pelaku kemudian menyerahkan diri ke Polsek Kubu diantar warga. Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengakui marah kepada korban saat cekcok mulut, sehingga menusuknya.

“Pelaku saat itu pulang kondangan dan habis minum tuak. Mabuknya tidak jelas, karena saat diajak komunikasi bisa bicara dengan baik,” ujar AKP I Nengah Sona.

Dalam kasus ini, Mustika dikenakan Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 2 UU Darurat No 12 tahun 1951, karena telah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan tanpa hak menyimpan, menguasai, dan menggunakan senjata tajam. [yan]

__Posted on
__Categories
Merdeka, Umum