Chappy Hakim: Garuda Terlilit Utang karena Redupnya Spirit Kebangsaan


Pasalnya, pada tahun 1950-an para penentu kebijakan (pemerintah) pada waktu itu sudah bisa membaca cerahnya masa depan apabila wilayah udara nasional bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Pada waktu itu kita tidak punya pesawat akhirnya kita patungan beli pesawat. Setelah beli pesawat dia bingung marketnya tidak ada, dia cari marketnya di luar negeri di Burma (sekarang Myanmar), kenapa di Burma? Karena pada waktu itu Indonesia bisa mendapatkan dana bisa “berbisnis”,” kata Pengamat penerbangan Chappy Hakim dalam dialog bersama Jaya Suprana dikutip Rabu (15/9).


Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) ini mengatakan, pemerintah dahulu begitu berupaya mati-matian demi kejayaan wilayah penerbangan nasional.

Kala itu, dijelaskan Chappy, Indonesia belum punya pesawat pun patungan membeli pesawat. Lalu ketika kebingungan mencari market, para pendahulu bangsa itu getol mencari market di luar negeri.

“Dan dana itu digunakan, ada dokumennya, untuk membiayai perjuangan bangsa Indonesia! membiayai pendidikan Angkatan Udara, membiayai perwakilan Indonesia di luar negeri,” tuturnya.

“Jadi bayangkan, sekarang ini kita punya pesawat ratusan, market luar biasa, tetapi kita menyaksikan kondisi maskapai penerbangan kita seperti apa? Jadi kalau memprihatinkan itu di sini (tinggi), dia lebih memprihatinkan di bawah. Kenapa kalau ditanya? Saya menjawabnya begini, bahwa kesadaran bernegara kita sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia itu pelan-pelan kayaknya luntur, kayaknya spirit api semangat itu pelan-pelan meredup,” sambungnya.

Lebih lanjut, Chappy Hakim menyatakan, sebab mengapa itu semua bisa terjadi, tidak lain adalah karena tidak ada lagi terlihat sekarang ini semangat kebangsaan, semangat kebersamaan untuk memajukan Indonesia bersama-sama.

“Garuda itu wah kerennya bukan main, waktu saya masih mondar-mandir karena ada keperluan di Australia, masyarakat Australia itu favoritnya itu naik Garuda. Bayangkan orang luar negeri dia lebih senang naik Garuda?” katanya.

“Jadi, saya gak usah cerita apa lah, itu bangsa lain. Tentunya kalau kita melihat realitas sekarang ini, itulah meredupnya spirit kita sebagai bangsa. Jadi semua memikirkan diri sendiri, kelompoknya sendiri, maka terjadilah sekarang apa yang kita lihat di permukaan,” demikian Chappy Hakim.

__Posted on
__Categories
Nasional