Guru Berkostum Badut Mengajar Mengaji Panti Asuhan

Guru berkostum badut mengajar mengaji secara sukarela di panti asuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tak kurang dari 10 menit, wajah Yahya Edward Hendrawan (38) sudah penuh dengan riasan warna-warni, lengkap dengan aksesoris hidung bulat ala badut.

Usai merias wajahnya, Yahya kemudian memanggil Mirza, putra bungsunya yang masih berusia lima tahun. Dengan tangan terampil, Yahya hanya perlu waktu sekitar lima menit menghias wajah anaknya seperti dia.

“Saya sudah hafal, mesti dandan kaya gini,” kata dia sambil tertawa.

Setelah rampung urusan rias merias, mereka berganti kostum badut dan bergegas meninggalkan rumahnya di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Banten menggunakan sepeda motor.

Sekitar 10 menit kemudian mereka sudah sampai di Panti Asuhan Darussalam An-Nur, Tangerang. Tepatnya mereka tiba pukul 13:30 WIB.

Bagi keduanya, Panti Asuhan Darussalam An-Nur bukan tempat yang asing. Yahya sudah 13 tahun mengajar mengaji di panti tersebut setiap hari tanpa memungut biaya.

Namun 11 tahun terakhir dia mulai mengajar menggunakan kostum badut.

Kedatangan Yahya dan bacil atau badut cilik –sebutan untuk Mirza– sudah ditunggu oleh anak-anak panti asuhan yang berjumlah sekitar 30 orang.

Sebelum memulai mengajar, dia terlebih dahulu menyapa anak-anak panti asuhan dengan jenaka. Tak ketinggalan atraksi sulap seperti melepas merpati dan membuka buku dengan kobaran api dia lakukan untuk menyemangati anak-anak.

Usaha Yahya berhasil, anak-anak kegirangan sambil bertepuk tangan. Tak berhenti sampai di situ, dia juga membagikan hadiah bagi yang berhasil menjawab pertanyaannya seputar pelajaran agama.

Hadiahnya macam-macam: ada puzzle, tempat pensil, buku tulis sampai uang Rp 5 ribu. Semua anak-anak berebut menjawab pertanyaan dari Yahya. Untuk membeli hadiah-hadiah yang dia bagikan ini, Yahya merogoh koceknya sendiri. Tapi sesekali ada donatur yang menitipkan mainan untuk diberikan.

Setelah membagi-bagikan hadiah, dia baru mengajar mengaji hingga pukul 3 sore.

Latar belakang mengajar berkostum badut

Cara Yahya untuk menghibur sekaligus menyemangati anak-anak panti asuhan untuk belajar mengaji tak terlepas dari rasa iba. Dia merasa perlu untuk sejenak membuat anak-anak tertawa gembira.

“Kasihan, biar mereka lupa sebentar kalau orang tuanya sudah gak ada,”

“Kita aja yang dewasa sedih kalau ingat orang tua kita gak ada apalagi anak-anak,” tambah dia.

Selain itu menurut dia transfer ilmu saat mengajar dengan kostum badut juga terbukti efektif. Anak-anak lebih semangat belajar dan lebih cepat dalam menghafal pelajaran.

Hal ini berbeda dirasakan Yahya ketika dia belum memakai kostum badut. Kata Yahya, anak-anak tak semangat untuk belajar mengaji apalagi cepat menghafal materi yang dia ajarkan.

Keliling kampung ajak anak-anak gemar membaca

Selepas mengajar mengaji di panti asuhan, Yahya juga keliling di sekitar rumahnya setiap sore hari. Dia berjalan kaki membawa beragam buku cerita dan buku pelajaran untuk dibaca anak-anak.

Hal ini dia lakukan agar menambahkan minat baca dan mengurangi rasa bosan anak-anak. Tak hanya memberikan buku, dia juga membacakan dongeng dan tak ketinggalan mengajarkan agama.

“Ingin membangkitkan anak-anak untuk membaca buku dan mengurangi bermain gadget,” jelas dia.

Meski mengumpulkan sejumlah anak, dia tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak.

Dengan kostum badutnya lagi-lagi Yahya merasa dimudahkan dalam usahanya. Sebab dia bisa dengan mudah menarik perhatian anak-anak dan tak perlu repot-repot mengumpulkan mereka untuk membaca.

Mendapat cibiran

Namun usaha dia untuk menyemangati anak-anak dalam belajar dan membaca buku tak selalu berjalan mulus. Dia juga mendapat cibiran bahkan dari anggota keluarganya.

Menurut Yahya, ayahnya merasa malu saat dia memakai kostum badut untuk mengajar.

“Kalau ngajar, ngajar aja engga usah pakai make up badut begitu, bikin malu,” kenang dia saat meniru ayahnya.

Sambutan kurang baik juga datang dari istri Yahya, Evi Susanti (37). Evi sempat menyarankan Yahya untuk memiliki profesi lain apa pun asalkan bukan badut. Namun Yahya yakin mereka hanya tak terbiasa, kelak juga akan menerima.

Setelah berbulan-bulan, ayah dan istrinya mulai menerima Yahya mengajar dengan berkostum badut. Saat ini, pria yang memiliki dua anak tersebut merasa lega karena mendapat dukungan dari orang-orang terdekat. Apalagi ayahnya menerima dia sebelum meninggal dunia.

Berbagai cibiran juga datang dari para tetangga. Menurut Yahya tetangganya ini menganggap dia hanya mencari perhatian belaka.

“Ngapain pake badut begitu banyak gaya, palingan cuma cari perhatian,” tiru Yahya.

Kesulitan lain juga harus dia hadapi saat sepinya panggilan badut untuk tampil di berbagai acara. Sudah satu bulan Yahya tak terima panggilan tersebut. Otomatis pemasukan juga tak dia miliki.

Yahya yang sebelumnya berprofesi sebagai office boy ini, mematok tarif Rp 400 ribu untuk satu kali tampil di sebuah acara. Saat sedang ramai panggilan, dia bisa tampil dua kali di hari Sabtu dan Minggu.

Namun sudah sebulan dia bergantung kepada warung kecil-kecilan yang dibuat istrinya. Istri Yahya setiap hari membuat kue, gorengan hingga jus buah. Yahya biasa menawarkan makanan-makan ini ke tetangga-tetangga.

Dia mengatakan, bahkan pernah meminjam uang sebesar Rp 20 ribu ke tetangganya untuk hadiah saat dia mengajar di panti asuhan.

Meski jalannya tak selalu mulus, Yahya bertekad tak akan berhenti untuk mengajar dengan sukarela. Tujuannya agar dia bisa bermanfaat bagi sesama.

 

 

 

__Posted on
__Categories
Republika, Umum