Hingga kuartal I, Kalbe Farma (KLBF) serap capex Rp 300 miliar

Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) optimistis perekonomian Indonesia tumbuh positif di tahun ini. Karenanya, perusahaan terus menggiatkan ekspansi.

Presiden Direktur KLBF, Vidjongtius menjelaskan kendati anggaran belanja modal tahun ini sama dengan tahun lalu, pihaknya akan tetap berekspansi. “Capex disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas produksi dan jenis produk yg biasanya dilakukan bertahap,” ujarnya kepada kontan.co.id, Senin (3/5).

Untuk memuluskan rencana bisnis tahun ini, KLBF mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 1 triliun. Dana capex akan digunakan untuk pengembangan dan inovasi produk baru dan aplikasi digital kesehatan.

Baca Juga: United Tractors (UNTR) serap capex Rp 352 miliar pada kuartal I 2021

Adapun pengembangan dan inovasi produk yang menjadi fokus Kalbe tahun ini adalah produk herbal asli Indonesia. Salah satu produk herbal yang akan dikembangkan KLBF seperti jahe merah. Vidjongtius menuturkan pengembangan inovasi produk baru juga berjalan sesuai rencana seperti mendapatkan lisensi hak dari luar negeri misalnya untuk penyakit kanker dan Covid-19 serta jenis penyakit lainnya.

Ia memaparkan, hingga kuartal I-2021 perusahaan telah menyerap anggaran capex sebesar Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar. “Digunakan untuk penyelesaian pabrik yang dibangun tahun lalu dan tambahan beberapa mesin baru di tahun ini,” katanya.

Berdasarkan catatan kontan.co.id, Kalbe Farma juga akan meneruskan program pengembangan vaksin korona (Covid-19). Kalbe Farma berkongsi dengan Genexine Korea Selatan, melalui anak usaha PT Kalbe Genexine Biologics (KGBio).

Nilai perjanjian lisensinya mencapai US$ 1,1 miliar atau setara Rp 15,4 triliun. Lisensi ini untuk mengembangkan dan melakukan komersialisasi obat imuno-onkologi GX-I7 atau obat penguat kekebalan tubuh. Perjanjian lisensi termasuk upfront payment senilai US$ 27 juta dan akan diikuti milestone registrasi dan komersialisasi serta royalti 10% terhadap penjualan.

Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) buyback surat utang US$ 300 juta

Adapun, vaksin Covid-19 KLBF hingga kini masih tahap uji klinis dan menunggu persetujuan emergency dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vidjongtius berharap proses uji klinis dan persetujuan emergency dari BPOM bisa diperoleh di kuartal III 2021. KLBF juga masih menghitung volume produksinya.

Mengenai prospek bisnis industri farmasi tahun ini, Vidjongtius melihat trennya masih positif. Menurut dia, vaksinasi yang tengah berlangsung dapat memutar kembali roda ekonomi Indonesia yang sempat mandek akibat pandemi corona.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


__Posted on
__Categories
EkoBiz, Kontan