Kisah Keluarga Fakir Miskin dan Kedelai Rebus

Sampai kapan engkau sibuk dengan kelezatan, sedangkan engkau akan ditanya tentang semua yang kau lakukan? Demikian nasihat sederhana Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam satu tausiyahnya.

Sekilas sederhana tapi maknanya sangat mengena hati. Betapa pentingnya bersyukur dan ridha atas setiap keadaan sehingga hati tidak lagi sibuk mencari kepuasan.

(Baca Juga: Inilah Balasan Bagi yang Pandai Bersyukur)

As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani (1944-2004) adalah seorang ulama besar yang nasabnya bersambung kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Beliau merupakan pewaris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Makkah melalui cucunya Imam Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhum.

Baca Juga:

Selain Da’i, pengajar, penceramah, beliau juga dikenal sebagai penulis hebat. Tidak kurang dari 100 kitab yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dan sebagainya.

Setiap ceramah dan nasihatnya selalu mengena di hati pendengarnya. Dalam berdakwah beliau sering menyampaikan kisah-kisah hikmah yang sarat dengan hikmah dan pelajaran.

Seperti kisah fakir miskin dan kedelai rebus. Alkisah, ada seorang laki-laki fakir miskin melewati jalan Madinah. Di sepanjang jalan, dia sering melihat orang-orang makan Daging. Diapun merasa sedih karena jarang sekali bisa makan daging.

Dia pulang ke rumahnya dengan hati mendongkol. Sesampai di rumah, istrinya menyuguhkan kedelai rebus. Dengan hati terpaksa, dia memakan kedelai itu seraya membuang kupasan kulitnya ke luar jendela.

Dia sangat bosan dengan kedelai. Dia bilang kepada istrinya “Bagaimana hidup kita ini? Orang-orang makan Daging, kita masih makan kedelai.”

Tak lama kemudian, dia keluar ke jalan di pinggir rumahnya. Alangkah terkejut, dia melihat seorang lelaki tua duduk di bawah jendela rumahnya sambil memungut kulit-kulit kedelai yang tadi ia buang dan memakannya seraya bergumam:

الحمدلله الذي رزقني من غير حول مني ولا قوة

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku rezeki tanpa harus mengeluarkan tenaga.”

Mendengar ucapan lelaki tua itu, dia pun menitikkan air mata, seraya bergumam:

رضيت يا رب

Radhiitu Ya Rabb. Sejak detik ini, aku rela dengan apapun yang Engkau berikan, ya Allah.”

(Baca Juga: Kisah Kedermawanan Ulama Besar Makkah Sayyid Alawi Al-Maliki)

Rejeki itu yang penting mengalir. Besar atau kecil yang penting ada alirannya. Jangan harap mengalir seperti banjir. Kalau tak bisa berenang bisa tenggelam.

ﺇﻟﻰ ﻣﺘﻰ ﺃﻧﺖ ﺑﺎﻟﻠﺬﺍﺕ ﻣﺸﻐﻮﻝ
ﻭﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻗﺪﻣﺖ ﻣﺴﺌﻮﻝ

__Posted on
__Categories
SindoNews, Umum