Lempengan Batu Ini Ternyata Merupakan Peta Tertua di Eropa

SEBUAH lempengan batu berukir dari zaman perunggu awal yang ditemukan di Prancis pada tahun 1900, diduga kuat merupakan peta tiga dimensi tertua di Eropa. Setelah sempat menghilang, lempengan batu berukuran 2 meter kali 1,5 meter ini ditemukan kembali di ruang bawah tanah, di sebuah kastil tua di Prancis pada tahun 2014.

Lempengan batu yang dikenal sebagai ‘Saint-Bélec Slab’ ini diperkirakan berumur 4.000 tahun. Benda tersebut ditemukan di kawasan pekuburan kuno di Finistère, Brittany barat, Prancis oleh seorang arkeolog lokal Paul du Chatellier. Namun tampaknya keberadaan lempengan tersebut sempat terlupakan selama lebih dari satu abad, setelah disimpan di kediaman du Chatellier, di kawasan Château de Kernuz.

Batu ini kembali muncul setelah para peneliti dari Universitas Bournemouth, Inggris, menemukannya kembali pada tahun 2014. Setelah para arkeolog mempelajari pola yang terukir pada batu tersebut, mereka yakin bahwa tanda tersebut adalah sebuah peta dari suatu daerah di Brittany barat, Prancis.

“Ini mungkin peta tertua dari suatu wilayah yang telah diidentifikasi,” ungkap Dr. Clément Nicolas dari Universitas Bournemouth, yang juga merupakan salah satu peneliti utama dalam penelitian ini seperti dilansir dari bbc.com, Selasa (6/4).

“Ada beberapa peta seperti ini, yang diukir di batu di seluruh dunia. Umumnya, peta ini hanya interpretasi. Tapi ini adalah peta pertama kali yang menggambarkan suatu area dalam skala tertentu,” jelasnya.

Para peneliti mengatakan bahwa garis lekukan pada peta tersebut adalah representasi 3D dari lembah Sungai Odet, sementara beberapa garis lainnya kuat dugaan menggambarkan jaringan sungai di daerah tersebut. Penggunaan motif berulang yang digabungkan dengan garis di permukaan lempeng batu tersebut menggambarkan interpretasi kawasan Finistère tempo dulu, di Prancis, ungkap sebuah studi yang dipublikasikan dalam Bulletin of the French Prehistoric Society.

Lempengan tersebut memiliki akurasi 80% untuk area yang digambarkannya, mencakup  bentangan sungai sepanjang 18 mil (29 kilometer) yang turut terukir didalamnya. Dalam kesimpulannya Dr. Nicolas mengatakan peta itu mungkin digunakan untuk menandai suatu area tertentu milik seorang tuan tanah.

“Itu mungkin cara untuk menegaskan kepemilikan wilayah dari seorang pangeran atau raja kecil pada masa itu,” ungkap Dr Nicolas.

“Kita cenderung meremehkan pengetahuan geografis orang-orang masa lalu. Lempengan ini penting karena menyoroti pengetahuan kartografi kuno,” tegasnya. Penemuan lempengan peta batu ini sekaligus menjadikannya sebagai peta 3D tertua yang diketahui di Eropa. (M-1)
 

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum