Pandemi membuat bisnis minuman Mang Jae semakin hangat

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jahe menjadi salah satu rempah-rempah yang naik pamornya saat pandemi. Lantaran jahe dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh jika dipadukan dengan rempah lainnya.

Selain jadi bumbu masak, biasanya jahe hanya dikonsumsi bersama rempah lain seperti temulawak, kunyit dan lainnya dalam bentuk minuman herbal atau jamu.

Nah, ditangan Arief Basyaruddin dan adiknya Hery farhanuddin  jahe kini bisa diolah menjadi minuman kekinian dibawah brand Mang Jae.

Mang Jae diceritakan Arief sudah dirintis sejak 2016 dan berlokasi di Banjarnegara, Jawa Tengah. Mang Jae memiki varian produk olahan jahe diantaranya, gula jawa jahe,wedang rempah, kembang gula jahe, dan produk terbarunya yaitu kopi jahe Perlente.

“Kebetulan di saat yang bersamaan munculah pandemi virus corona dimana setiap orang harus menjaga kesehatan dan imun tubuhnya. Jahe merupakan salah satu rempah yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dari situlah kemudian muncul ide untuk meluncurkan produk baru dari Mang Jae berupa Kopi Jahe dengan merek Perlente,” cerita Arief kepada KONTAN.

Baca Juga: Begini cara minum kopi yang baik untuk kesehatan tubuh, penggemar kopi wajib tahu

Untuk pemasaran produk Mang Jae, Arief menggunakan reseller yang kini sudah tergabung 100 orang sejak awak dirintis. Nantinya para reseller Mang Jahe disebut Arief yang akan memasarkan produknya melalui markerplace. Perihal harga produk Kopi Jahe Perlente dibandrol Rp 25.000 perbungkus untuk reseller, sedangkan untuk harga konsumen di kisaran Rp 30.000 Rp 35.000 perbungkus. Satu bungkus Kopi Jahe Perlente buatan Arief dapat dikonsumsi 10 kali minum.

Kopi yang digunakan Arief merupakan kombinasi dari java arabika, java robusta dan lampung robusta. Arief mengklaim bahan baku yang gunakan alami tanpa pengawet dan pemanis buatan, serta praktis karena sudah terdapat gula aren didalamnya.

Sebulan Kopi Jahe Perlente diproduksi sekitar 500 bungkus. Produk Mang Jae disebut Arief sudah menjangkau seluruh Indonesia dengan ratusan reseller yang dimiliki. Untuk penjualan ke luar negeri diungkap Arief memang belum dilakukan, namun Ia membuka peluang bagi siapa saja yang berkenan menjadi reseler produk-produk Mang Jae baik itu untuk dalam negeri dan luar negeri.

Oh iya, kopi jahe Perlente baru saja diluncurkan Arief pada Agustus kemarin. Namun jangan salah, meski baru seumur jagung diluncurkan, Arief menyebut permintaan akan Kopi Jahe Perlente terbilang bagus. Sejak Agustus lalu, hanya untuk kopi jahe Perlente saja Arief bisa mengantongi omzet Rp 7 juta sampai Rp 10 juta perbulan.

“Karena produk baru, Kopi Jahe Perlente pesanan baru di kisaran 300-500 bungkus perbulan. Namun untuk seluruh produk Mang Jae dalam sebulan di kisaran 3.500-5.000 bungkus,” imbuh Arief.

Adapun untuk produk Mang Jae lain seperti Gula Jawa Jahe dibandrol Rp 25.000 – Rp 30.000, Wedang Rempah Rp 30.000 – Rp 35.000, Kembang Gula Jahe Rp 25.000 – Rp 30.000.

Sejak pandemi disebut Arief berdampak pada peningkatan permintaan olahan jahe buatannya. Ada kenaikan omzer sekitar 30% dari sebelum pandemi. Kini omzet total seluruh produk Mang Jae diungkap Arief capai Rp 70 juta dalam sebulan.

“Respon pasar selama pandemi ini cukup baik di banding ketika dulu kami awal-awal merintis Mang jae. Sedangkan untuk produk-produk Mang Jae yang lain yang hadir di pasar sebelum adanya pandemi, Alhamdulillah ada kenaikan permintaan produk sebesar 30%,” jelasnya.

Untuk kendala dalam usaha Arief menuturkan sampai saat ini belum ditemui kendala baik produksi atau pemasaran yang serius. Arief bercita-cita ke depannya produk Mang Jae terutama kopi jahe Perlente dapat menembus pasar ekspor hingga merambah global.

Selain itu tentu inovasi produk olahan jahe lainnya sedang dipersiapkan. Rencananya Arief akan meluncurkan inovasi jahe yang dipadukan dengan susu maupun coklat. “Inovasi produk kami sedang menyiapkan susu jahe dan coklat jahe,” ungkapnya. 

Konsultan bisnis dan waralaba DK Consulting Djoko Kurniawan menuturkan potensi olahan jahe dapat dikatakan menjanjikan, terlebih saat pandemi mulai masuk ke Indonesia. Inovasi jahe digabung dengan kopi dinilai Djoko jadi produk yang  masih diminati meski pasca pandemi. “Pebisnis kopi jahe masih akan berkembang karena kopi punya banyak penggemar dan jahe punya nilai kesehatan,” ungkap Djoko.

Untuk menggaet konsumen milenial, Djoko menyarankan agar olahan kopi jahe bisa dipadukan dengan bahan yang digemari anak muda. “Jika ingin produknya disukai oleh anak muda harus dilakukan riset untuk menggabungkan kopi dan jahe dengan produk pelengkap yang disukai kaum millenial,” jelas Djoko.

 



__Posted on
__Categories
Kontan, Peluang