Pasar saham Asia dibuka melemah, investor tunggu data inflasi AS

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang hampir datar, sementara Australia merosot 0,4 persen, Korea Selatan kehilangan 0,7 persen dan pasar Jepang tutup …

Sydney (ANTARA) – Pasar saham Asia melemah pada awal perdagangan Senin pagi karena investor menghitung mundur data inflasi AS terbaru yang dapat mengatur kenaikan suku bunga dari Federal Reserve, mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah dan menghukum saham sektor teknologi.

Ledakan kasus virus corona secara global juga mengancam menghambat belanja konsumen dan pertumbuhan tepat ketika The Fed sedang mempertimbangkan untuk mematikan keran likuiditas, waktu yang sulit bagi pasar yang kecanduan uang murah tanpa akhir.

Tindakan pasar awal dengan demikian berhati-hati dengan indeks berjangka S&P 500 berkurang 0,2 persen dan indeks berjangka Nasdaq menyusut 0,1 persen.

Baca juga: Pasar saham Asia menguat ketika investor menunggu data pekerjaan AS

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang hampir datar, sementara Australia merosot 0,4 persen, Korea Selatan kehilangan 0,7 persen dan pasar Jepang tutup untuk hari libur umum.

Analis khawatir laporan harga konsumen AS pada Rabu (12/1/2022) akan menunjukkan inflasi inti naik ke level tertinggi dalam beberapa dekade di 5,4 persen dan mengantar kenaikan suku bunga segera setelah Maret.

Sementara itu angka penggajian Desember meleset dari perkiraan, penurunan tingkat pengangguran menjadi hanya 3,9 persen dan penguatan upah menunjukkan ekonomi kekurangan pekerja.

“Itu konsisten dengan pandangan The Fed yang berkembang bahwa pasar tenaga kerja semakin dekat atau sudah mencapai pekerjaan maksimum dengan tekanan upah yang meningkat,” kata analis di NatWest Markets.

“Ini akan menambah spekulasi tentang kenaikan (suku bunga) Maret, dan kami telah menarik ekspektasi kami untuk kenaikan Fed terjadi pada Maret, bukan Juni.”

Baca juga: Saham Australia dibuka merosot terseret sektor teknologi

Sejumlah pejabat Fed akan menawarkan pemikiran terbaru mereka minggu ini, termasuk Ketua Fed Jerome Powell dan Gubernur Lael Brainard yang menghadapi rapat dengar pendapat.

Pasar dengan cepat bergeser mencerminkan risiko dengan menyiratkan peluang lebih besar dari 70 persen untuk suku bunga naik menjadi 0,25 persen pada Maret dan setidaknya dua kenaikan lagi hingga akhir tahun.

Saham sektor teknologi dan pertumbuhan jatuh karena investor beralih ke saham perbankan dan perusahaan energi, sementara obligasi terpukul.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun mendekati tertinggi yang terakhir terlihat pada awal 2020 di 1,765 persen, setelah melonjak 25 basis poin minggu lalu dalam pergerakan terbesar mereka sejak akhir 2019. Target grafik berikutnya adalah kisaran 1,95/1,97 persen.

“Kami berpikir bahwa peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang akan terus berlanjut,” kata Nicholas Farr, seorang ekonom di Capital Economics.

“Pasar mungkin masih meremehkan seberapa jauh suku bunga dana federal akan naik dalam beberapa tahun ke depan, jadi perkiraan kami adalah imbal hasil 10-tahun akan naik sekitar 50 basis poin lagi, menjadi 2,25 persen, pada akhir 2023.”

Pergeseran hawkish The Fed cenderung menguntungkan dolar AS, meskipun mengalami aksi ambil untung pada Jumat (7/1/2022) setelah laporan penggajian gagal memenuhi ekspektasi pasar yang tinggi.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya datar di 95,764, setelah jatuh 0,5 persen pada Jumat (7/1/2021), tetapi memiliki dukungan di level 95,568.

Euro melambung ke 1,1354 dolar, meninggalkannya di dekat puncak kisaran perdagangan 1,1184/1,1382 dolar baru-baru ini. Yen Jepang mendapat jeda dari pergerakan bearish baru-baru ini menjadi berdiri di 115,64, karena dolar memudar dari puncak 116,34 yen minggu lalu.

Di pasar komoditas, emas sedikit menguat menjadi diperdagangkan di 1.795 dolar AS per ounce tetapi lebih rendah dari puncak Januari di 1.831 dolar AS.

Harga minyak mereda pada awal perdagangan, setelah naik 5,0 persen pekan lalu sebagian dibantu oleh gangguan pasokan dari kerusuhan di Kazakhstan dan penutupan produksi di Libya.

Brent turun 28 sen menjadi diperdagangkan di 81,47 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS kehilangan 36 sen menjadi diperdagangkan di 78,54 dolar AS per barel.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2022

__Posted on
__Categories
Antara News, EkoBiz