Peneliti Jerman Ungkap 3 Kegagalan Ikhwanul Muslimin  

Kegagalan Ikhwanul Muslimin kembali pada persoalan internal

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Peneliti Jerman Stephan Roll menulis artikel tentang Ikhwanul Muslimin pada laman Stiftung Wissenschaft und Politik. Judul artikel tersebut yaitu “Mesir: Kegagalan Ikhwanul Muslimin”.

Kepemimpinan Muhammad Mursi adalah sejarah. Protes massa, yang menyebar ke seluruh negeri pada peringatan pelantikan Mursi dan ultimatum yang diberikan kepemimpinan militer membuka jalan bagi penggulingan presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas di tangan angkatan bersenjata negara itu.

Kegagalan Mursi sendiri juga merupakan kegagalan Ikhwanul Muslimin, yang berdiri di belakangnya, dan para pemimpinnya sekarang ditangkap bersama dengan presiden yang digulingkan. Organisasi ini tidak berhasil mengkonsolidasikan kekuatan yang diperolehnya pada 2011. Tiga faktor utama sangat penting untuk ini.

Pertama, Ikhwanul Muslimin lalai membuka diri terhadap penduduk. Setelah jatuhnya rezim Hosni Mubarak pada 2011, kepemimpinan Ikhwanul Muslimin berusaha, melalui pendirian Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), untuk mengubah lengan politiknya menjadi partai yang mencakup semua. Memang, FJP berhasil mengorganisasi mayoritas dan memenangkan pemilu. Pasalnya, partai tersebut, berbeda dengan parpol lain di Mesir, memiliki struktur organisasi yang baik. 

Namun, FJP tidak berubah menjadi partai yang mencakup semua. Alih-alih mengintegrasikan sebanyak mungkin faksi politik dan melakukan debat terbuka, posisi partai sebagian besar dibahas dalam biro kepemimpinan Ikhwanul Muslimin, Maktab al-Irsyad.

Di dewan eksekutif yang tidak transparan ini, sekelompok kecil “pragmatis konservatif” yang berpikiran ideologis yang merupakan bagian dari lingkaran dalam Kheirat al-Shater, wakil pemimpin Ikhwan, menjaga segala sesuatunya dengan kuat di tangan mereka.

Anggota Ikhwanul Muslimin yang berpikiran liberal, seperti Abdel Moneim Aboul Fotouh, yang berhasil mencapai hasil yang layak dalam pemilihan presiden 2012, secara berturut-turut telah dikeluarkan dari badan pengurus kelompok tersebut. Kurangnya apresiasi terhadap transparansi juga tercermin dalam gaya pemerintahan Mursi.

Presiden bahkan sering tidak berusaha menjelaskan keputusannya kepada masyarakat. Kurangnya kemauan untuk berkomunikasi ini ditambah dengan Mursi yang tidak karismatik dan sebagian besar tidak dikenal, sampai pemilihannya.

 

__Posted on
__Categories
Republika, Umum