Perbankan masih lanjutkan hapus buku guna mempercantik kualitas aset

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemutihan atau hapus buku merupakan salah satu strategi perbankan untuk mempercantik kualitas asetnya. Tahun ini, sejumlah bank masih akan melanjutkan strategi hapus buku atas kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang sudah memang sudah tidak bisa lagi diselamatkan.

Walaupun ancaman peningkatan NPL dari kredit restrukturisasi Covid-19 masih membayangi bank, namun beberapa bank yakin tahun ini rasio NPL bakal makin menipis dibandingkan tahun lalu. Selain dengan melakukan restrukturisasi dan perbaikan management collection, hal itu akan dicapai dengan aksi hapus buku.

Pada kuartal I-2021, hapus buku kredit atau biasa disebut write off di beberapa bank tercatat naik. Bank Mandiri misalnya mencatatkan hapus buku sebesar Rp 3,21 triliun di periode itu. Ada kenaikan 14,2% dari kuartal I tahun lalu yakni Rp 2,81 triliun. Adapun nilai NPL perseroan per Maret 2021 secara bank only mencapai Rp 25,4 triliun atau dengan rasio 3,3%.

Dari hapus buku di tiga bulan pertama itu, Bank Mandiri berhasil memulihkan atau recovery dan masuk jadi pendapatan sebesar Rp 861 miliar atau 26,8%. Pemulihan ini turun dari dari Rp 951 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Baca Juga: Tren Hapus Buku (Write Off) Kredit Bermasalah Meningkat, Biar Rapor Bank Tetap Cantik

PT Bank Negara Indonesia (BNI) memutihkan NPL sebesar Rp 2,54 triliun di kuartal I 2021 dengan tingkat recovery 23% atau senilai Rp 585 miliar. Jumlah hapus buku ini meningkat dari Rp 1,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Itu terdiri dari segmen korporasi Rp 1,31 triliun, medium Rp 370 miliar, segmen kecil Rp 412 miliar dan segmen konsumer Rp 203 miliar. 

Adapun sepanjang tahun 2020, pemutihan kredit di bank ini mencapai Rp 9,77 triliun dengan tingkat pemulihan 201% atau Rp 1,96 triliun.

Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BCA) telah memutihkan kredit bermasalah di tiga bulan pertama itu sebesar Rp 253 miliar dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencapai Rp 500 miliar. 

David Pirzada, Direktur Manajemen Risiko BNI mengatakan, hapus buku kredit BNI tahun ini diperkirakan sekitar Rp 9,5 triliun atau hampir sama dengan tahun 2020. “Sementara recovery ditargetkan bisa mencapai Rp 3,5 triliun,” katanya kepada Kontan.co.id, Jumat (30/4).

Meskipun debitur restrukturisasi terdampak Covid-19 sudah ada yang masuk jadi NPL sebesar Rp 1,9 triliun, namun hapus buku yang dilakukan BNI di kuartal I telah mendorong penurunan rasio NPL  dari 4,3% pada Desember 2020 ke 4,1% per Maret 2021. 

Kredit yang akan dihapusbukukan tahun ini kemungkinan bisa berasal dari pengusaha di Bali. Pemerintah saat ini tengah mengkaji melakukan pemutihan atas pebisnis di Bali yang sudah bangkit meskipun sudah diberikan relaksasi. Total eksposure kredit BNI di Bali mencapai Rp 8,5 triliun atau 1,5% dari total kredit perseroan dimana Rp 4,7 triliun merupakan kredit yang berisiko. 

“Okupansi bisnis hotel di Bali masih sangat rendah di kuartal I. sehingga pebisnis hotel masih sulit mengcover biaya operasionalnya. Sehingga akan sangat membantu jika pemerintah kasih stimulus tambahan ke mereka baik dalam program PEN atau pemberian stimulus tambahan berbentuk pemutihan secara partial misalnya bunga yang di deferred selama restrurisasi Covid-19,” kata David.

Sementara BCA mencermati kemampuan bayar debitur turut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan bisnis yang saat ini melemah akibat pandemi Covid-19. Per Maret, BCA membukukan kredit bermasalah Rp 10,5 triliun atau 1,83% terhadap total kreditnya. Adapun per Desember 2020, rasio NPL bank ini ada di level 1,79%. 

Baca Juga: BNI bentuk pencadangan Rp 4,81 triliun hingga Maret 2021

Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA mengatakan, pihaknya akan berupaya maksimal dalam mengelola risiko yang muncul akibat pandemi dan menyalurakn kredit secar prundent untuk menjaga kualitas kredit. Hanya saja, ia tidak menyebutkan apakah hapus kredit masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Adapun BTN menargetkan menurunkan NPL ke level 3,5%-3,7% tahun ini. Strateginya mencapai itu difokuskan pada dua inisiatif yakni perbaikan managemen sistem collection dan penjualan aset NPL secara gelondongan. 

BTN Direktur Wholesale Risk and Asset Management BTN Elisabeth Novie Riswanti  mengatakan, perseroan menargetkan akan melakukan hapus buku sekitar Rp 2 triliun-Rp 2,5 triliun tahun ini, turun dari Rp 3 triliun pada tahun 2020. “Penerimaan dari kredit hapus buku tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp 500 miliar,” ujarnya, Senin (3/5).

Rasi NPL BTN telah turun darai 4,37% pada Desember 2020 menjadi 4,25% per Maret tahun ini. Penurunan ini merupaakaan dampak dari perbaikan bisnis proses dan penjualan aset-aset NPL yang dilakukan sejak tahun lalu seperti melalui investor gathering, optimalisasi penjualan melalui portal RumahMurah BTN dan memperbanyak investor untuk membeli aset NPL bank.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


__Posted on
__Categories
EkoBiz, Kontan