Ruwatan Begalan demi Ketenteraman Perkawinan

IRING-IRINGAN keluarga pengantin pria bergerak menuju rumah kediaman pengantin wanita sambil membawa aneka rupa barang
seserahan. Rombongan dikawal tokoh bernama Surantani yang mengenakan kostum adat Banyumasan dengan diiringi musik gamelan gending Ricik-ricik. Sebelumnya, seorang begal (rampok) bernama Surogentho mengumbar rasa, diiringi gending Sekar Gadhung, “Wis pirangpirang dina urung olih banda landunya, weteng uga kencot urung mangan, kepriwe kiye? (Sudah beberapa hari belum dapat harta benda. Perut keroncongan belum makan. Bagaimana ini?).

Melihat iring-iringan Surantani, Surogentho mencegatnya, “Hop… hop… mandheg! Ha ha ha ha ana mangsa liwat! Ana pangan! Ha ha ha ha sapa kowe gemrutug jag jagan neng kene ora pamit. Ora tembung, ora lawung nganggo karepe dhewek. Sapa kowe? (Berhenti. Ha ha ha ha ada mangsa lewat. Ada makanan. Siapa kamu menginjak-injak tempat ini tanpa izin dan seenaknya sendiri?)

Surantani: “Ki Sanak! Aku Surantani. Lah kowe sapa? Kedangkrang kedengkreng neng tengah gili?” (Ki Sanak. Saya Surantani. Kamu siapa? Marah-marah di tengah jalan?)

Surogentho: “Aku Surogentho. Singwis kondhang begal ora wedi mati. Surantani, arep maring ngendi hah?” (Saya Surogentho perampok terkenal dan tidak takut mati. Kamu mau ke mana hah?)

Surantani: “Aku arep maring Padukuhan Sidamulya. Saperlu arep njujugna penganten lanang.” (Saya mau menuju Padukuhan Sidamulya karena perlu meng antar pengantin putra)

Adegan di atas mirip tradisi Palang Pintu dalam masyarakat Betawi. Bedanya, ini merupakan ritual adat dalam tradisi perkawinan masyarakat Banyumas, tepatnya Purbalingga. Namanya Ruwatan Begalan. Singkat cerita, setelah keduanya beradu mulut, Surogentho membolehkan rombongan lewat asalkan Surantani dapat menjelaskan makna barang-barang yang dibawa.

Namun, setelah Surantani selesai menjelaskan, Surogentho ingkar janji. Keduanya berkelahi dengan seru dan barang-barang bawaan berantakan lalu menjadi rebutan penonton. Mereka pun membawa barang-barang yang dipercaya membawa berkah ini ke rumah.

Surantani kemudian nembang (bernyanyi) dan Surogentho meminta maaf serta bersedia menjadi pengawal sampai Pedukuhan Sidamulya. Surantani, Surogentho, dan rombongan pengantin putra melanjutkan perjalanan menuju tempat keluarga pengantin putri yang sedang menunggu untuk melangsungkan pernikahan.

Ruwatan Begalan masih bertahan hingga kini di wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Biasanya untuk pernikahan anak sulung dengan sulung, bungsu dengan bungsu, dan sulung dengan bungsu. Masyarakat Banyumas percaya perkawinan akan membawa sukerta (musibah). Untuk membuang sukerta dan menyelamatkan perkawinan, dilaksanakan adat ruwatan berupa begalan. Upacara ini berfungsi sebagai pengendalian perilaku manusia dalam kehidupan sosial masyarakat Banyumas, juga wujud keyakinan bahwa manusia  (mikrokosmos) adalah bagian dari alam semesta (makrokosmos).

Makna barang bawaan

Barang bawaan yang dibawa mempelai pria pun memiliki makna. Pikulan, misalnya, yang terbuat dari bambu berkaki empat, artinya orang sudah berumah tangga memiliki empat orangtua, bapak dan ibu kandung serta bapak dan ibu mertua. Pikulan (wangkringe) ada dua atas dan bawah. Ini menggambarkan sepasang suami istri mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing dan saling membantu. Untuk memikul harus seimbang, tidak boleh berat sebelah. Pikulan membawa barang-barang perabotan yang tidak sedikit, mengambarkan beratnya beban dan tanggung-jawab dalam berumah tangga.

Benda lainnya ialah iyan, berguna untuk membuat nasi golong atau giling. Benda ini menggambarkan sepasang pengantin harus sudah bulat tekadnya membangun rumah tangga bersama hingga selamat dunia akhirat. Adapiun Ilir (kipas) merupakan alat yang bisa membuat rasa sejuk, aman, dan tenteram bagi siapa saja. Kipas kalau dikibaskan menimbulkan angin yang bermakna manusia harus selalu ingat dan berbakti kepada Yang Mahakuasa.

Selain itu, ada pula tampah, bentuknya bundar dan diikat dengan simpul. Maknanya, perempuan kalau sudah diikat atau dilamar pria, harus bulat hatinya. Benda yang disebut irig, hampir sama dengan tampah, tapi anyamannya dibuat lebih lebar untuk memisahkan benda yang kasar dan halus. Maknanya hidup berumah tangga harus bisa memilah mana perkara yang baik dan jelek.

Masih ada bawaan lainnya, seperti pala pendhem dan pala gumantung, yang bermakna pedoman berumah tangga. Padi bermakna lambang kemakmuran. Jagung yang dimaknai berasal dari seja dan agung, yang artinya dalam berumah tangga harus punya cita-cita tinggi untuk ketenteraman dan kesejahteraan keluarga dan anak cucu keturunannya. Jagung sering disebut Sri Dana, mengandung makna senang bersedekah. Tebu berasal dari antebing kalbu, bermakna kehidupan berumah tangga harus dilandasi tekad yang kuat untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat. Budin (singkong) memiliki makna budi daya atau berusaha. Dalam berumah tangga perlu berusaha untuk mencukupi segala kebutuhannya.

Sejarah begalan

Begalan memuat banyak kearifan lokal. Menurut Sugiyono, pengurus seni begalan Sadar Budaya di Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, begalan diadakan pertama kali pada zaman pemerintahan Bupati pertama Banyumas, yakni Jaka Kaiman, menantu Ki Wargo Utomo (Bupati Wirasaba). Jaka Kaiman yang berbesanan dengan Bupati Ayah menggelar ruwatan begalan, tahun pastinya tidak diketahui secara pasti.

Begalan diciptakan untuk ‘memperingati’ musibah yang menimpa Ki Wargo Utomo. Dia dikisahkan telah berbesanan dengan Demang Toyareka. Anak ragil (bungsu) perempuan Ki Wargo menikah dengan anak mbarep (sulung) laki-laki Demang Toyareka. Namun, entah mengapa Ki Wargo menyerahkan putri bungsunya itu kepada Sultan Pajang, Hadi Wijaya, yang meminta upeti seorang anak perempuan yang masih gadis kepada Bupati Wirasaba.

Peristiwa itu diketahui oleh Demang Toyareka dan mengadu kepada Sultan Hadi Wijaya bahwa putri Ki Wargo sebenarnya sudah menjadi istri dari putranya. Sultan Hadi Wijaya pun marah besar dan mengutus gandhek (prajurit) untuk membunuh Ki Wargo, Bupati Wirasaba, karena telah berdusta.

Namun, tebersit pula di pikiran Sultan Hadi Wijaya, mungkin Demang Toyareka bohong. Kemudian ia pun masuk ke keputren untuk menanyakan status putri Ki Wargo Utomo. Ternyata benar bahwa ia sudah diperistri oleh anak Demang Toyareka, tapi masih suci, belum dijamah oleh suaminya karena dia tidak mencintai putra Demang Toyareka. Setelah mendengar jawaban dari sang mempelai perempuan, Sultan Hadi Wijaya mengutus gandhek kedua untuk menyusul gandhek pertama agar rencana membunuh Ki Wargo Utomo dibatalkan.

Pada hari itu Sabtu Pahing, Ki Wargo Utomo sedang dalam perjalanan pulang naik kuda dhawuk. Ternyata perjalanan gandhek pertama sudah sampai di Kebumen dan bertemu dengan Ki Wargo yang sedang beristirahat di sebuah rumah model Bale Malang dan sedang makan dengan lauk pindhang banyak dan lalap timun wuku.

Pada saat itu gandhek pertama sudah siap menghunuskan pedangnya ke Ki Wargo. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara gandhek kedua untuk mencegah gandhek pertama agar tidak membunuh Ki Wargo. Gandhek kedua berteriak, “Aja sida, aja sida!” (tidak jadi, tidak jadi!). Namun, terdengar oleh gandhek pertama, “Aja weya, aja weya!” (cepat, cepat!). Akhirnya dibunuhlah Ki Wargo oleh gandhek pertama karena kesalahpahaman. Kemudian terjadi percekcokan antara gandhek pertama dan gandhek kedua. Masing-masing mengaku benar  sampai terjadi perkelahian dan keduanya mati. (M-4)

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum