Saatnya Sampah Dikelola secara Digital

SAMPAH, teknologi, dan pemuda. Di tangan Abdul Rofiq Badril Rizal MZ, ketiganya bisa dikolaborasikan dalam satu gawai.

Tepat setahun lalu, November 2019, bisnis sampah mulai ia geluti. Banyak orang terheran-heran dengan keputusannya itu. Pasalnya, Rizal, panggilan akrabnya, ialah seorang lulusan program pascasarjana di Sydney, Australia.

Namun, warga Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu tidak menggubrisnya. “Di Australia, saya juga mempelajari masalah sampah, manajemen sampah dan aplikasi digital untuk sampah. Kembali ke Jember, saya ingin menerapkannya di Indonesia,” tandas pria berusia 27 tahun ini.

Sebuah aplikasi digital pengelolaan sampah pun diluncurkan Rizal, benama Kertas Pedia. Hanya dalam tempo satu tahun, Kertas Pedia sudah berkembang
di 13 kota di Jawa Timur. Jember menjadi kantor pusat perusahaan. Tahun ini, pengembangan dilakukan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Kertas Pedia mengharuskan warga yang terlibat melakukan pemilahan sampah. Komoditas yang sebelumnya dibuang, kini bisa bermanfaat.

Sampah kertas, misalnya, masih bernilai ekonomi karena bisa didaur ulang. Adapun sampah organik juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk.

“Di Jember, kami masih berkonsentrasi pada sampah anorganik, sementara di Nganjuk sudah menampung sampah organik yang dimanfaatkan untuk pupuk,” cerita Rizal.

Dengan platform aplikasi digital Kertas Pedia, warga tidak perlu bersusah payah membuang maupun menjual sampah karena bisa dilakukan lewat gawai
di tangan. Para agen, kepanjangan tangan Kertas Pedia, akan datang dan mengambil orderan dari warga. “Di Jember, kami punya 20 agen lebih. Saat ini dalam sebulan, kami mengurus 70 ton sampah.”

Dalam aplikasi, warga memiliki pilihan jenis sampah yang hendak dijual dan berapa banyak. Kertas Pedia juga dilengkapi dengan fi tur Donasi Sampah, Menabung Sampah, serta Berlangganan Jemput Sampah.

Fitur Donasi Sampah dikembangkan sebagai dana sumbangan untuk kegiatan sosial, seperti edukasi sampah dan pendampingan untuk UMKM.

Dari hasil menjual sampah, masyarakat bisa memilih menerima uang tunai atau saldo. Yang kedua ini bisa dimanfaatkan untuk membayar rekening BPJS
Kesehatan, PLN, PDAM, dan tagihan lain. Sama seperti perusahaan aplikasi digital lainnya, semuanya bisa dilakukan di satu gawai, satu aplikasi, Kertas Pedia.

“Saat ini sudah 6.000-an warga bergabung. Umumnya pemuda karena mereka melek teknologi dan digital. Dari pemuda, kami berharap ini ditularkan kepada
saudara dan orangtua mereka,” tandas Rizal. (Usman Affandi/N-3)

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum