Saham Asia melayang sedikit lebih rendah seiring pergerakan dolar

Hong Kong (ANTARA) – Saham-saham Asia melayang sedikit lebih rendah pada perdagangan Kamis pagi, tertekan oleh dolar AS yang terus bergerak lebih tinggi karena investor bertaruh tentang suku bunga yang naik lebih cepat di Amerika Serikat daripada di ekonomi utama lainnya seperti Jepang dan zona euro.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,18 persen ke level terendah enam minggu, setelah membukukan penurunan kecil di masing-masing dari enam sesi perdagangan terakhir. Sementara Nikkei Jepang menguat 0,8 persen.

Ada penurunan ringan di seluruh papan. Saham Australia terkikis 0,1 persen, Hong Kong turun 0,35 persen dan saham unggulan China turun 0,30 persen.

Baca juga: Saham Asia gelisah saat “yield” obligasi AS naik dan minyak bergejolak

Khususnya di Hong Kong, saham Kaisa Group Holdings Ltd melonjak 24 persen di tengah pengembalian mereka ke perdagangan, setelah pengembang China yang diperangi itu mengatakan pihaknya menawarkan opsi kepada pemegang obligasi untuk menukar obligasi yang ada dengan obligasi baru yang diperpanjang jatuh temponya, untuk meningkatkan stabilitas keuangan.

Secara umum, “ketika menyangkut alokasi ekuitas regional, kami mengamati dolar AS yang membuat level tertinggi baru dan itu merupakan hambatan bagi ekuitas pasar negara berkembang,” kata Fook-Hien Yap, ahli strategi investasi senior di pengelola kekayaan Standard Chartered Bank.

Dolar diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam hampir lima tahun versus mata uang Jepang di 115,3 yen, dan hampir 18 bulan terhadap euro yang berada di 1,1206 dolar.

Baca juga: Saham Asia tak ikuti reli ekuitas global gara-gara Alibaba tergelincir

Mendukung greenback, beberapa pembuat kebijakan Federal Reserve AS mengatakan mereka akan terbuka untuk mempercepat pengurangan program pembelian obligasi bank sentral jika tingkat inflasi yang tinggi bertahan, dan bergerak lebih cepat untuk menaikkan suku bunga, risalah risalah pertemuan kebijakan Fed 2-3 November menunjukkan.

“Pasar sekarang memperkirakan lebih dari dua kenaikan (suku bunga) tahun depan, tapi kami pikir itu terlalu agresif. Kami hanya mencari sekitar satu kenaikan tahun depan,” kata Yap.

Ekspektasi ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, meskipun tidak konsisten, dengan obligasi pemerintah AS 10 tahun yang jadi acuan terakhir menghasilkan 1,6427 persen setelah naik ke setinggi 1,6930 persen pada Rabu (24/11/2021).

Obligasi pemerintah AS tidak akan diperdagangkan pada Kamis karena liburan Thanksgiving. Pasar saham AS juga akan ditutup dan sesi akan dipersingkat pada Jumat (26/11/2021).

Semalam, sebagian besar Wall Street berakhir lebih tinggi dan kembali menguji rekor tertinggi karena saham teknologi bangkit kembali dari aksi jual awal pekan ini.

Dalam berita bank sentral lainnya, bank sentral Korea menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis, seperti yang diharapkan secara luas, karena kekhawatiran tentang meningkatnya utang rumah tangga dan inflasi mengimbangi ketidakpastian seputar kebangkitan kasus COVID-19.

Harga minyak naik sedikit setelah beberapa hari bergejolak di mana Amerika Serikat mengatakan akan melepaskan jutaan barel minyak dari cadangan strategis berkoordinasi dengan China, India, Korea Selatan, Jepang dan Inggris untuk mencoba mendinginkan harga minyak setelah seruan kepada OPEC+ untuk memompa lebih banyak pasokan diabaikan. Namun, investor mempertanyakan efektivitas program tersebut, yang menyebabkan kenaikan harga.

Minyak mentah Brent terakhir di 82,53 dolar AS per barel, naik 0,33 persen, sementara minyak mentah AS berada di 78,56 dolar AS per barel, naik 0,2 persen.

Emas di pasar spot naik tipis 0,17 persen menjadi 1.791 dolar AS per ounce.
 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

__Posted on
__Categories
Antara News, EkoBiz