Saham PGN Terus Menguat

Fundamental bisnis PGN diprediksi akan semakin solid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) atau PGAS terus menguat secara signifikan. Setelah berada di level Rp 1.180 per lembar saham pada Jumat (13/11), saham berkode PGAS ini melesat ke posisi 1.405 per lembar saham pada Jumat (20/11). 

Analis pasar modal Fendi Susiyanto mengatakan, melesatnya harga saham PGN terjadi di tengah berbagai upaya efisiensi yang dilakukan oleh PGN. Salah satunya proyek pipa minyak Rokan yang biayanya dipangkas hingga 150 juta dolar AS atau senilai Rp 2,1 triliun triliun menjadi 300 juta dolar AS. 

 

Selain langkah efisiensi, sejak kebijakan pemerintah menetapkan harga gas untuk tujuh sektor industri tertentu, termasuk PLN di kisaran 6 dolar AS per mmbtu, pelanggan baru PGN dari sektor industri juga terus bertambah. Pada September 2020, penyerapan gas bumi PGN di tujuh sektor industri itu naik menjadi 230(BBTUD) dari sebelumnya 219 BBTUD di Agustus 2020.

 

Ada lima pelanggan baru yang beralih menggunakan gas PGN, yaitu PT Krakatau Steel Tbk, PT Krakatau Wajatama, PT Krakatau POSCO, PT Indonesia Pos Chemtech Cosun Red dan PT Stollberg Samil Indonesia. Kelima perusahaan itu menyerap gas sebanyak 10-15 BBTUD.

 

Dengan penerapan harga gas industri tertentu oleh pemerintah tersebut, margin PGN dari bisnis gas bumi saat ini menjadi sekitar 2 dolar per mmbtu. Ini terjadi mengingat 61 persen dari penjualan gas PGN sebanyak 811 mmscfd sampai kuartal III 2020, dialokasikan untuk industri tertentu.

 

Ada tiga aspek penggerak utama bagi PGN, yaitu efisiensi, peningkatan volume, dan perubahan bisnis model yang lebih efektif. Dampak dari harga gas yang teregulasi itu membuat potensi pertumbuhan pendapatan dan EBITDA perseroan akan berbeda dibandingkan sebelumnya.

 

“Intinya tidak tepat jika melihat proyeksi PGAS hanya dari satu sisi yaitu harga yang teregulasi turun, tapi harus dilihat juga dari potensi meningkatnya volume penjualan dan efisiensi yang gencar dilakukan,” ujar Fendi yang juga pendiri Finvesol Consulting, kemarin. 

 

Fendi menjelaskan, sebagai perusahaan yang menguasai lebih dari 80 persen jaringan gas bumi di Indonesia, kinerja PGN akan menjadi semakin stabil. Apalagi dengan harga gas yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar lain, PGN memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan volume gasnya.

 

“Fundamental bisnis PGN akan tetap solid dalam jangka panjang. Penguasaan infrastruktur gas bumi dan tren peningkatan kebutuhan industri terhadap energi yang efisien akan menguntungkan PGN,” kata Fendi. 

 

Selain pipa minyak Rokan yang diproyeksikan beroperasi Januari 2022, PGN juga tengah menyelesaikan proyek pipa gas dari Gresik ke Semarang. Pipa ini akan menyalurkan gas bumi di antaranya dari Lapangan Jambaran Tiung Biru di Bojonegoro untuk kebutuhan PLTGU Tambak Lorok, Semarang.

 

Keberadaan pipa Gresik-Semarang dapat dioptimalkan untuk memasok kebutuhan gas di sejumlah kawasan industri baru diwilayah di Jawa Tengah. Tiga perusahaan BUMN, PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), dan PT Perkebunan Negara (PTPN) IX, membentuk konsorsium untuk mengelola Kawasan Industri Terpadu Batang.

 

Fendi menilai secara teknikal saham PGN masih berpotensi untuk menguat hingga level Rp 1.550 dalam jangka pendek (1-3 pekan ke depan). Bahkan secara teknikal jangka menengah berpeluang mencapai resistance level 1.650. Namun bagi investor yang menginginkan hasil investasi yang optimal, saham PGN lebih tepat untuk pilihan jangka panjang.

 

“Sebagai penguasa bisnis gas bumi, PGN adalah pilihan investasi jangka panjang yang menarik. Apalagi sebagai BUMN), PGN juga ditarget untuk membayar deviden setiap tahun,” katanya. 

 

 

sumber : Antara
__Posted on
__Categories
Republika, Umum