Sang Gemblung Antasena

PRESIDEN ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, dalam kesempatan belum lama ini mempertanyakan apa yang sudah dipersembahkan kaum
milenial kepada bangsa dan negara ini. Pertanyaan itu mungkin karena kerisiannya mendapati seringnya sebagian golongan anak-anak muda berdemonstrasi yang berakhir anarkistis.

Kalau mau fair (adil), pertanyaan itu seyogianya juga dilayangkan kepada semua komponen bangsa, termasuk mereka yang sedang menjabat. Faktanya, pejabat yang hidupnya dibiayai negara (uang rakyat) saja banyak yang tidak amanah, malah memanfaatkan  kedudukannya untuk kepentingan pribadi.

Sejarahnya, maju dan mundurnya bangsa-negara memang sangat tergantung pada peran para pemudanya. Bahkan, di pundak mereka eksistensi atau keberlangsungan bangsanegara dipertaruhkan. Di sinilah pentingnya selalu mempertanyakan apa yang sudah kaum muda perbuat.

Dalam jagat wayang, ada kisah menarik tentang seorang pemuda patriotik, yang jiwa raganya seutuhnya dipersembahkan untuk bangsa dan negaranya. Padahal, anak muda ini tidak menjadi apa-apa, pun tidak butuh jabatan apa-apa.

Sang pemuda tanpa pamrih itu bernama Antasena. Ia putra kesatria Pandawa, Werkudara, dari istri ketiga, Dewi Urangayu. Antasena memiliki dua kakak lakilaki lain ibu, yakni Antareja dan Gathotkaca.

Antasena berwatak polos dan lugu. Ia tidak bisa berbahasa krama (bahasa halus) sehingga kepada siapa pun ia berbicara ngoko (kasar). Pun ia seperti tidak mengenal unggah-ungguh (tatakrama) sehingga kesannya anak mbambung (anak jalanan).

Di balik kekurangannya itu, Antasena seorang pemberani dan sakti. Badannya bak terlapisi baja sehingga kebal senjata apa pun. Air liurnya beracun. Ia memiliki pusaka semacam sungut yang bisa melumpuhkan atau menghabisi makhluk apa pun, dan sebaliknya bisa untuk menghidupkannya.

Selain itu, Antasena juga memiliki ketajaman batin. Ia tahu apa yang sedang terjadi di belahan wilayah lain dan tahu pula peristiwa yang akan terjadi, bahasa lainnya ngerti sakdurunge winarah. Ia pun bisa terbang, ambles (masuk) ke bumi, serta mampu hidup di dalam air.

Ketika remaja ia pernah menjadi jagonya dewa. Kisahnya ketika Kahyangan Dasarsamodra diduduki raksasa bersisik bernama Minalodra. Bathara Baruna, penjaga Kahyangan Dasarsamodra, tidak mampu melawannya. Raja Kahyangan Bathara Guru lalu memerintahkan  Antasena mengusir pengacau tersebut.

Antasena tidak kesulitan membekuk Minalodra sehingga Kahyangan Dasarsamodra kembali tenteram, pulih seperti sediakala. Sebagai balas budi, Bathara Baruna kemudian menganggap Antasesa sebagai cucunya sendiri.

Pada suatu hari, Antasena mengungkapkan keinginannya kepada ibunda dan sang kakek, Resi Mintuna, untuk sowan kepada bapaknya. Sejak lahir hingga dewasa, Antasena memang belum pernah bertemu Werkudara. Selama ini, ia tinggal dan digulawentah oleh ibunda dan kakeknya di Pertapaan Kisiknarmada.

Setelah mendapat restu ibu dan kakek, Antasena berangkat menuju Kesatriyan Jodipati, tempat tinggal Werkudara. Ada gambaran dalam benaknya tentang sosok sang ayah kandung, yang konon tinggi besar dan gagah perkasa.

Selamatkan Pandawa

Ketika sampai di Jodipati didapati suwung. Antasena tidak menemukan bapaknya dan kemudian langsung menuju ke istana Amarta. Tapi, saat baru memasuki alun-alun, ia ditangkap

Tambakganggeng, patih Amarta. Antasena dicurigai sebagai matamata musuh yang akan menyusup. Tambakganggeng akhirnya meminta maaf setelah Antasena menjelaskan bahwa dirinya adalah putra Werkudara dari Kisiknarmada. Dari keterangan nayaka praja itu didapat keterangan bahwa semua anggota keluarga Pandawa Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa lenyap bak ditelan bumi.

Antasena lalu pergi mencari sang ayah berdasarkan naluri. Setelah berjalan jauh, di suatu tempat ia melihat ada dua pemuda berkelahi. Di sekitarnya ada beberapa anak muda lain yang tampak gelisah. Dua pemuda yang baku pukul itu Antareja dan Gathotkaca sedang berebut menjadi ketua tim pencari Pandawa.

Sebelumnya, mereka baru saja mendapat dhawuh (sabda) dari uwaknya, Kresna, titisan Bathara Wisnu, bahwa yang bisa menyelamatkan Pandawa adalah anak Werkudara. Antareja dan Gathotkaca samasama merasa berhak memimpin tim yang terdiri dari Pancawala, Abimanyu, dan saudara lainnya.

Antasena berusaha melerai pertikaian tersebut tetapi malah diusir. Lalu, ia menyungut Antareja dan Gathotkaca sehingga keduanya lumpuh seketika. Abimanyu yang ingin menolong kakak sepupunya itu pun jatuh terkulai tersenggol sungut.

Semua putra Pandawa tidak berkutik dan meminta ampun kepada Antasena. Mereka tidak menyangka pemuda bertampang bloon dan gemblung itu memiliki kesaktian luar biasa. Sambil cengarcengir (senyum kecut) Antasena lalu menyungut ketiganya sehingga pulih kembali.

Beberapa saat kemudian datanglah Kresna menemui para keponakannya yang masih terbengongbengong. Ia lalu menjelaskan bahwa pemuda ampuh itu saudara sendiri bernama Antasena, anak Werkudara dengan Dewi Urangayu.

Setelah berembuk, putra Pandawa sepakat memberikan mandat kepada Antasena sebagai pemimpin tim. Mereka lalu bersama-sama menuju ke Kerajaan Girikadasar. Info dari Kresna, Prabu Ganggatrimuka, raja negara tersebut dan teman dekat Kurawa, menculik Pandawa untuk dijadikan tumbal.

Singkat cerita, putra Pandawa menaklukkan Ganggatrimuka dan menemukan pepunden mereka sekarat dalam penjara. Dengan sungutnya, Antasena memulihkan Pandawa dan kemudian bersamasama kembali ke Amarta. 

Masih banyak kisah yang menceritakan peran dan jasa Antasena terhadap Pandawa, para saudaranya, serta keamanan dan kejayaan Amarta. Misalnya, ikut membangun negara yang tersua dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan.

Dalam cerita lain, Antasena pernah sendirian membebaskan Astina dari genggaman Duryudana (Kurawa). Motivasinya ketika itu, ia hanya bermaksud mengetahui siapa sebenarnya keturunan Abiyasa (Prabu Kresnadwipayana) yang kuat duduk di singgasana sebagai pemimpin Astina sejati.

Poinnya adalah Antasena contoh pemuda yang mencintai bangsa dan negaranya. Jiwa raganya dipersembahkan untuk tanah airnya. Ia tidak butuh kedudukan atau jabatan. Tinggalnya pun tetap di Kisiknarmada, yang jauh dari pusat kekuasaan. (M-2) 
 

__Posted on
__Categories
MediaIndonesia, Umum