Terungkap di Persidangan, Korban Penganiayaan Habib Bahar Terima Kompensasi Rp25 Juta

BANDUNG – Korban penganiayaan Habib Bahar , Andriandyah telah menerima uang kompensasi yang nilainya mencapai Rp25 juta sebagai bentuk pertanggungjawaban Bahar atas perbuatannya.

Baca juga: Akui Aniaya Sopir Taksi Online, Habib Bahar: Istri Saya Digodain

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus penganiayaan yang dilakukan Bahar terhadap driver taksi online itu di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (4/5/2021).

Baca juga: Istri Habib Bahar Meninggal Kecelakaan di Tol Cipali 2019

Nilai uang kompensasi sebesar itu diungkapkan oleh kakak ipar Andriansyah bernama Hendri Nafis yang dihadirkan kuasa hukum Bahar sebagai saksi meringankan.

Baca Juga:

Pria yang mengenakan kaus hitam itu dihadirkan di hadapan hakim dan penuntut umum. Dalam kesaksiannya, Hendri bercerita awal mula mengetahui adik iparnya menjadi korban. Dia mengaku, sesaat setelah peristiwa penganiayaan terjadi, adik iparnya menelepon dirinya untuk menjemput di kantor polsek.

“Pukul setengah dua belas (malam) sudah di Polsek. Telepon saya minta jemput pulang. Sekitar 20 menit (dari rumah). Ketemu dia, di telepon keadaan sadar, baik, cuma luka saja,” ungkap Hendri.

Menurut Hendri, secara fisik, adik iparnya itu hanya mengalami luka ringan di bagian kaki. Dia pun lantas membawa korban ke rumah sakit PMI di Bogor untuk mendapatkan pengobatan.

“Ya luka dikit, kayak jatuh, saat itu nggak tahu (penyebabnya). Sekarang tahu karena ada insiden malam itu. Kalau kronologi nggak tahu. Cerita aja dipukul, tapi nggak tahu siapa yang mukul,” terang dia.

Sepekan setelahnya, setelah Andriansyah menjalani pengobatan, seseorang yang mengaku perwakilan Bahar bernama Eka tiba di rumah Andriansyah. Eka kemudian berbicara mengenai perdamaian dan pihak keluarga pun menerima ajakan perdamaian itu.

“Kita juga merasa, kenapa tidak bisa damai kalau ada niat itu? Kalau ada niat baik. Akhirnya, tahu dia (Bahar) ulama. Kenapa tidak? Sesama muslim kok. Itu prinsip kita,” ucapnya.

Namun, kesepakatan damai tersebut baru dituangkan secara tertulis setahun setelahnya atau pada Oktober 2020. Surat perdamaian itu ditandatangani oleh Bahar dan pengacaranya serta pihak keluarga Andriansyah.

Hendri mengakui, surat perdamaian tersebut tidak langsung dibuat saat perwakilan Bahar pertama kali tiba di rumah korban. Selain tidak tahu harus membuat surat tersebut, kata Hendri, perwakilan Bahar kala itu hanya bersilaturahmi dan menawarkan perdamaian

__Posted on
__Categories
SindoNews, Umum